www.rekamfakta.id – Statistik menunjukan bahwa hipertensi menjadi masalah kesehatan yang sangat serius di masyarakat. Dengan pemahaman dan pengelolaan yang minim, banyak pasien berisiko mengalami komplikasi yang berbahaya. Penyakit ini dapat berujung pada gangguan serius seperti stroke atau penyakit jantung jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, upaya preventif yang terstruktur sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini.
Melihat situasi tersebut, sekelompok akademisi dari Universitas Dhyana Pura (Undhira) merasa terpanggil. Mereka meluncurkan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang bertujuan untuk mendidik dan memberdayakan pasien hipertensi di Kota Denpasar agar lebih proaktif dalam memanage kesehatan mereka sendiri.
Program ini dipimpin oleh Dr. I Nyoman Purnawan, S.KM., MPH, yang menjadi penggerak utama dalam memberikan pelatihan manajemen diri berdasarkan pendekatan Health Belief Model (HBM). Pendekatan ini dirasa efektif dalam meningkatkan kesadaran pasien tentang pentingnya menjaga kesehatan demi mencegah komplikasi penyakit.
Pentingnya Manajemen Diri dalam Mengatasi Hipertensi
Manajemen diri menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas hidup pasien hipertensi. Dengan mengetahui cara mengelola kondisi mereka, pasien dapat mengurangi risiko komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit ini. Pengelolaan yang tepat juga dapat memperbaiki kebiasaan hidup dan menurunkan tingkat stres yang sering dialami.
Pelatihan manajemen diri ini khususnya ditujukan kepada peserta prolanis di Pustu Tegal Harum, yang berlokasi di bawah Puskesmas Denpasar Barat I. Di sana, tim Undhira menemukan data awal yang cukup mencengangkan: sekitar 56% peserta memiliki pengetahuan yang rendah tentang manajemen diri, sedangkan 42% dari mereka memperlihatkan perilaku yang kurang baik terkait kesehatan.
Untuk mengatasi permasalahan ini, tim mengusulkan pendekatan yang bermanfaat. Mereka berfokus pada dua aspek: meningkatkan pengetahuan melalui penyuluhan dan meningkatkan perilaku dengan pelatihan praktis. Kedua hal ini diharapkan dapat saling memperkuat dan memberikan hasil yang signifikan bagi para peserta.
Pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat
Program PKM ini dilaksanakan dalam dua sesi utama. Sesi pertama adalah penyuluhan, di mana peserta diberikan informasi komprehensif mengenai manajemen diri dengan menggunakan pendekatan HBM. Sesi kedua adalah sesi Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang berfokus pada praktik senam relaksasi otot progresif (Progressive Muscle Relaxation / PMR).
Dengan metode intervensi ini, peserta diajarkan bagaimana senam relaksasi dapat membantu mengendalikan tekanan darah mereka. Sebelum dan sesudah program, dilakukan pengukuran pengetahuan, perilaku, dan yang terpenting, tekanan darah untuk mengukur dampak dari pelatihan yang diberikan.
Pengukuran ini sangat penting untuk mengetahui efektivitas dari program yang dilaksanakan. Dengan cara ini, tim pengabdi dapat mengidentifikasi perubahan yang terjadi pasca intervensi, serta mendapatkan data yang akurat untuk evaluasi lebih lanjut.
Hasil dan Dampak Positif dari Pelatihan yang Dilaksanakan
Ternyata, hasil dari program ini cukup menggembirakan. Setelah intervensi, terdapat peningkatan rata-rata pengetahuan peserta sebesar 3,10 dan peningkatan perilaku sebesar 3,40. Angka tersebut menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan mampu menjawab kebutuhan peserta untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mereka.
Lebih jauh lagi, dampak positif yang terlihat langsung setelah program adalah penurunan angka tekanan darah peserta. Rata-rata tekanan darah peserta yang awalnya berada di 150/95 mmHg berhasil diturunkan menjadi 138/88 mmHg setelah pelatihan.
Pencapaian ini mencerminkan penurunan tekanan darah sebesar 12/7 mmHg, yang menunjukkan keberhasilan program dalam memberikan dampak positif terhadap kesehatan peserta. Data ini menjadi bukti bahwa intervensi sederhana seperti penyuluhan dan senam relaksasi sangat berguna dalam tahap pencegahan hipertensi.
Rekomendasi untuk Perbaikan Kesehatan Masyarakat
Hasil dari kegiatan PKM ini tidak hanya berguna bagi peserta, tetapi juga bagi berbagai pihak terkait. Pertama, bagi Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kota Denpasar: penting untuk menerapkan senam relaksasi otot progresif secara menyeluruh di fasilitas kesehatan. Ini merupakan langkah penting dalam pengendalian tekanan darah pasien hipertensi.
Kedua, Pemerintah Kota Denpasar perlu memperhatikan kebijakan yang mendukung penerapan kegiatan senam ini di Puskesmas agar dapat lebih menyentuh masyarakat. Dukungan kebijakan yang konsisten akan sangat membantu dalam meraih tujuan kesehatan masyarakat yang lebih luas.
Terakhir, bagi masyarakat, konsistensi dalam melakukan senam menjadi aspek penting dalam manajemen diri. Melaksanakan senam secara rutin dapat berkontribusi pada pengendalian hipertensi dan Penyakit Tidak Menular (PTM) lainnya, sehingga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.


