www.rekamfakta.id – Denpasar – Terobosan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bali dalam pengelolaan sampah telah mendapatkan perhatian dan pujian dari Kementerian Lingkungan Hidup. Komitmen tersebut ditandai dengan menjadikan penanganan sampah sebagai kegiatan prioritas super mendesak yang diharapkan bisa menginspirasi daerah lain di Indonesia untuk mengikuti jejak serupa.
Pada rapat koordinasi yang berlangsung baru-baru ini, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, menegaskan bahwa permasalahan sampah di Bali tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA). Oleh karena itu, pendekatan pengelolaan sampah yang diusung adalah dari hulu ke hilir, dengan mengedepankan tanggung jawab setiap individu dan sektor yang memproduksi sampah.
Penerapan Sistem Pengelolaan Sampah yang Komprehensif
Strategi utama yang diterapkan adalah Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS), di mana proses pemilahan sampah dimulai sejak awal. Dewa Made Indra menambahkan bahwa inisiatif ini bertumpu pada partisipasi aktif masyarakat, termasuk dari sektor rumah tangga, industri, dan pariwisata.
Pemilahan Sampah yang Wajib: Setiap jenis sampah harus dibedakan menjadi tiga kategori utama, yaitu organik, anorganik, dan residu. Dengan adanya pemilahan ini, diharapkan akan mempermudah proses pengolahan dan mengurangi jumlah sampah yang akan dibuang ke TPA.
Pengolahan di Tempat: Untuk kategori sampah organik, masyarakat diharapkan dapat mengolahnya langsung di sumber, seperti menggunakan metode komposting atau teba modern. Langkah ini bertujuan untuk memanfaatkan kembali limbah yang dihasilkan menjadi produk yang bermanfaat.
Daur Ulang Optimal: Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi bisa dikelola melalui bank sampah. Dengan cara ini, masyarakat bisa mendapatkan keuntungan sekaligus membantu mengurangi beban sampah yang harus diangkut.
Penanganan Residual: Hanya sampah residu yang tidak dapat diolah yang akan dibawa ke TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle) atau TPST di desa-desa adat. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan beban TPA yang saat ini masih menampung sekitar 71% dari total timbulan sampah harian di Bali.
“Siapa pun yang memproduksi sampah, mereka wajib ikut bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah tersebut,” tegas Dewa Made Indra. Filosofi ini bertujuan untuk mengurangi beban TPA secara signifikan, menciptakan kesadaran di kalangan masyarakat dan sektor terkait.
Apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kebanggaan Rakyat
Keberanian Pemerintah Provinsi Bali dalam menerapkan kebijakan ini patut diacungi jempol, terutama dari perspektif lingkungan. Hanifah Dwi Nirwana, Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah dari Kementerian Lingkungan Hidup, memberikan pujian atas kebijakan tersebut meskipun tidak populer di kalangan masyarakat.
“Saya sangat mengapresiasi keberanian dalam membuat keputusan terkait masalah sampah. Walau kebijakan ini tidak popular, pihak pemerintah tetap berkomitmen,” ungkap Dwi Nirwana, merujuk pada kepemimpinan Gubernur Bali yang memiliki visi yang sangat progresif. Keberanian ini, menurutnya, adalah langkah penting menuju solusi yang lebih efektif di bidang pengelolaan sampah.
Dengan timbulan sampah harian mencapai 3.400 ton, tantangan yang dihadapi oleh Bali masih tergolong besar. Selain itu, pemerintah juga memiliki target ambisius untuk meningkatkan persentase pengelolaan sampah dari 29% menjadi 51,21% dalam waktu dekat. Ini tidak hanya akan menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membantu menjaga keindahan alam Bali.
Pentingnya Kolaborasi Antar Sektor dalam Pengelolaan Sampah
Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu adanya kolaborasi yang solid antara berbagai sektor. Mulai dari peran masyarakat, pelaku usaha, hingga pemerintah itu sendiri dalam hal ini sangat krusial untuk mengoptimalkan pengelolaan limbah. Itulah mengapa semua elemen harus bersinergi untuk mewujudkan visi Bali yang bersih dan lestari.
Masyarakat juga perlu dilibatkan secara aktif dalam pelaksanaan program-program terkait pengelolaan sampah ini. Misalnya, sosialisasi dan edukasi mengenai teknik pemilahan dan pengolahan sampah yang benar harus terus dilakukan agar masyarakat lebih paham akan pentingnya tindakan tersebut.
Inovasi dan Teknologi dalam Pengelolaan Sampah Modern
Ke depan, pemerintah juga harus mempertimbangkan penggunaan teknologi canggih sebagai penunjang dalam proses pengelolaan sampah. Penggunaan inovasi yang relevan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan limbah, sehingga mampu memenuhi target yang ditetapkan. Dari aplikasi daur ulang hingga teknologi pemisahan yang lebih efektif, ada banyak solusi yang bisa diterapkan untuk mendukung upaya ini.
Inisiatif pendukung ini tidak hanya akan membantu Bali dalam mengurangi jumlah sampah tetapi juga bisa menjadi model bagi daerah lainnya. Jika semua langkah ini dilakukan secara konsisten dan strategis, impian Bali untuk menjadi kawasan yang bersih dan berkelanjutan bisa terwujud dengan lebih cepat. Kolaborasi berbagai pihak, termasuk masyarakat, industri, dan pemerintah, akan menjadi kunci kesuksesan dalam menjalankan program pengelolaan sampah ini.
Dalam perjalanan menuju pengelolaan sampah yang lebih baik, tantangan akan selalu ada. Namun, dengan semangat dan komitmen yang kuat, Bali bisa menciptakan perubahan yang berarti dan memberi contoh bagi daerah-daerah lain dalam pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Dengan strategi yang terencana dan dukungan dari semua pihak, Bali dapat menghadirkan lingkungan yang bersih dan lestari bagi generasi mendatang.