www.rekamfakta.id – Pakar komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul Indonesia, Syurya Muhammad Nur, memberikan perhatian serius terhadap pernyataan konten kreator Ferry Irwandi mengenai dugaan pelecehan seksual yang terjadi di lokasi bencana alam di Sumatera. Menurutnya, narasi yang disampaikan tanpa melalui proses verifikasi yang memadai berpotensi merugikan psikologis para korban dan melanggar etika komunikasi publik.
Syurya menekankan pentingnya menjaga sensitivitas dalam menghadapi isu-isu seperti ini. Dalam situasi darurat, seharusnya ruang publik digunakan untuk menebarkan pesan empati, edukasi, dan solidaritas, bukan untuk mengeksploitasi isu yang sudah sangat rentan demi kepentingan konten.
Ia menambahkan bahwa isu kekerasan seksual sangat kompleks dan berdampak langsung pada kesehatan mental korban. Ketika informasi tersebut disampaikan dengan cara yang sembarangan, terutama oleh figur publik, bisa menyebabkan dampak yang lebih besar dan tidak diinginkan.
Syurya juga mengkritik cara Ferry membingkai gerakan donasi, di mana hal itu seolah menunjukkan pemerintah tidak berfungsi dengan baik di tengah krisis. Dalam pandangannya, framing semacam ini dapat menciptakan persepsi bahwa negara gagal dalam menangani bencana, padahal di lapangan, pemerintah sedang bekerja keras.
“Donasi adalah tindakan yang sangat mulia. Namun, jika dikemas sedemikian rupa hingga menempatkan negara dalam posisi yang buruk, maka nilai mulia tersebut bisa berubah menjadi alat untuk membentuk opini publik yang politik,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa narasi yang mengarah pada ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah bisa menjadi masalah serius. Dampak dari situasi ini tidak akan berhenti pada citra pemerintah, tetapi juga dapat mempengaruhi kepercayaan publik terhadap institusi negara secara keseluruhan.
Pentingnya Etika dalam Komunikasi Selama Krisis
Dalam konteks bencana, etika komunikasi menjadi sangat penting untuk menjaga keharmonisan sosial. Narasi yang berpotensi memecah belah justru harus dihindari agar masyarakat tetap bersatu dalam menghadapi tantangan yang ada. Oleh karena itu, konten yang sensitif harus disampaikan dengan hati-hati dan berdasarkan data yang akurat.
“Jika sebuah kritik dibangun tanpa dasar yang kuat dan tanpa memperhatikan konteks yang ada, maka yang terjadi bukan kontrol sosial, melainkan hanya menambah kebisingan di masyarakat,” ungkap Syurya. Pendekatan yang berlebihan dan provokatif hanya akan memperburuk situasi yang sudah rumit.
Figur publik dan konten kreator memiliki tanggung jawab besar, terutama ketika berhadapan dengan isu yang mempengaruhi banyak orang. Syurya mengingatkan bahwa kekuatan pengaruh mereka harus digunakan untuk hal yang bermanfaat, bukan untuk memicu konflik atau keresahan di tengah bencana.
“Etika harus menjadi landasan utama dalam produksi pesan, terutama di dunia digital yang cepat saat ini. Dengan popularitas yang tinggi datang pula tanggung jawab yang lebih besar,” imbaunya. Perlu ada kesadaran kolektif tentang betapa beratnya beban psikologis yang dialami masyarakat saat bencana terjadi.
Framing Negatif dan Konsekuensinya dalam Masyarakat
Saat narasi yang negatif tentang pemerintah disampaikan, hal ini bisa memunculkan distrust yang lebih luas di masyarakat. Ini merupakan masalah serius bagi keberlangsungan hubungan antara pemerintah dan rakyat. Persepsi negatif yang terus dipupuk dapat mengganggu stabilitas sosial.
Pernyataan Rocky Gerung juga menjadi sorotan, di mana ia menilai gerakan Ferry sebagai paradoks bagi pemerintah. Menurut Syurya, kritik dalam kerangka demokrasi adalah hal yang wajar, tetapi harus disampaikan dengan cara yang etis dan berlandaskan fakta.
“Ketika kritik disampaikan dengan cara yang sembrono atau di luar konteks, bukan hanya kritik yang dibangun, tetapi juga potensi kegaduhan yang bisa merusak ketenangan masyarakat,” tambahnya. Hal ini bisa memperburuk situasi yang sedang dihadapi masyarakat yang sudah trauma akibat bencana.
Syurya mengingatkan agar semua pihak lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi, apalagi di saat-saat krisis. Peran konten kreator dan publik figur sangat besar, sehingga setiap kata dan tindakan mereka harus dipertimbangkan dengan cermat.
Kesadaran Kolektif dalam Menghadapi Krisis
Setiap individu di masyarakat, baik yang memiliki platform besar maupun tidak, harus menyadari bahwa saat bencana melanda, adalah waktu untuk bersatu. Ketika solidaritas ditunjukkan sebagai respon terhadap bencana, narasi negatif tidak akan menemukan tempatnya. Rasa empati harus diutamakan di atas segala kepentingan lain.
“Jangan sampai ada yang merasa terpinggirkan atau disalahkan dalam situasi sulit. Semua harus saling mendukung dan memahami bahwa setiap orang menghadapi tantangan yang berat,” kata Syurya. Perasaan saling berempati bisa memperkuat ikatan sosial dan membantu mempercepat proses pemulihan.
Dengan membangun kesadaran kolektif, masyarakat bisa melawan narasi negatif yang mengancam persatuan. Hal ini tidak hanya penting untuk momen saat ini, tetapi juga untuk membangun fondasi yang lebih kuat bagi masa depan. Kemandirian masyarakat dalam menghadapi krisis adalah kunci untuk menciptakan kondisi sosial yang sehat.
Dalam kata penutup, penting untuk diingat bahwa tanggung jawab dalam komunikasi publik sangatlah besar. Etika harus selalu diutamakan, dan semua pihak diharapkan bisa belajar dari kejatuhan yang terjadi agar tidak terulang di masa yang akan datang. Dengan etika yang baik, kita semua bisa berkontribusi pada masyarakat yang lebih solid dan saling mendukung.


