www.rekamfakta.id – Denpasar – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali menegaskan bahwa profesionalisme wartawan sangat penting dalam upaya menjaga keamanan dan stabilitas sosial, terutama di tengah meningkatnya informasi yang tidak terverifikasi di media sosial. Dalam konteks ini, wartawan dituntut untuk tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga untuk melakukan verifikasi agar informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.
Diskusi tentang peran wartawan ini berlangsung pada Jumat malam, di Denpasar, dengan tema “Profesionalitas Wartawan dalam Mendukung Kondusifitas Keamanan di Wilayah Provinsi Bali”. Acara ini dihadiri oleh banyak jurnalis dari berbagai media serta perwakilan organisasi pers, seperti AJI, IJTI, dan lainnya, menunjukkan betapa pentingnya isu ini bagi para profesional media.
Sejumlah pembicara, termasuk wartawan senior Agus Putra Mahendra dan praktisi media Rofiqi Hasan, menyampaikan pandangan mereka mengenai tantangan yang dihadapi jurnalis dalam menjalankan tugasnya di era informasi yang begitu cepat. Dalam diskusi tersebut, para peserta berbagi pandangan dan pengalaman terkait etika dan verifikasi informasi.
Peran Wartawan dalam Menjaga Citra Bali
Agus Putra Mahendra, yang sering dipanggil Gus Hendra, menekankan pentingnya pemahaman tentang etika dalam jurnalisme. Terutama saat meliput peristiwa yang melibatkan kerumunan, wartawan harus bekerja berdasarkan Undang-Undang Pers untuk menyajikan informasi yang berimbang dan akurat. Menurutnya, kesalahan dalam penyajian berita dapat memiliki dampak serius dan tidak semua kesalahan dapat diperbaiki dengan permintaan maaf.
Dia lebih lanjut mengingatkan wartawan tentang pentingnya menjaga kecerdasan emosional dan intelektual saat meliput berita. Publik mengharapkan wartawan untuk menjadi sosok yang cerdas, sehingga pandangan dan penilaiannya dapat dipercaya. Dalam hal ini, pemilihan diksi menjadi sangat penting, karena pilihan kata yang keliru dapat menimbulkan persepsi negatif tentang suatu peristiwa.
Sebagai contoh, Gus Hendra mencatat bahaya dari penggunaan istilah “kerusuhan di Bali” ketika kejadian sebenarnya terbatas pada satu titik. Hal ini dapat merusak citra pariwisata Bali yang selama ini dikenal sebagai destinasi yang aman dan nyaman.
Tantangan di Era Digital: Mempertahankan Kualitas Liputan
Rofiqi Hasan menyoroti tantangan besar yang dihadapi wartawan di era digital, di mana siapa pun dapat mengklaim sebagai pembawa berita. Dalam situasi tersebut, prinsip verifikasi dan konfirmasi menjadi semakin kritis agar media tetap dapat dipercaya publik. Rofiqi mengingatkan bahwa banyak media kini terjebak dalam chase viral dan melupakan kedalaman serta substansi liputan mereka.
Menurutnya, media sebaiknya memperkuat karakter liputan agar bisa memberikan nilai lebih kepada pembaca dan penonton. Kebenaran dalam jurnalistik harus selalu berdasarkan hasil verifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar kebenaran yang bersifat mutlak.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi wartawan yang ingin menyajikan berita dengan akurat dan berkualitas. Masyarakat sangat bergantung pada informasi yang mereka terima, sehingga tanggung jawab wartawan menjadi semakin besar di era informasi yang kompleks ini.
Komitmen Wartawan untuk Menjaga Independensi dan Keamanan
Perwakilan dari UJB, Rohmat, menegaskan bahwa independensi media perlu dijaga agar dapat mencerminkan kepentingan masyarakat dan bukan kepentingan pemilik atau kekuasaan tertentu. Dengan begitu, wartawan dapat menjalankan tugasnya sebagai pengawas sosial yang objektif dan adil. Tujuan ini semakin penting di tengah situasi di mana banyak informasi dipengaruhi oleh kepentingan bisnis dan politik.
Dari AJI, Ayu Sulistyowati menambahkan faktor utama yang membedakan wartawan dengan media sosial adalah pada aspek akurasi dan Kode Etik Jurnalistik. Keduanya harus menjadi pedoman bagi wartawan dalam menjalankan tugasnya sehari-hari supaya berita yang disajikan selalu berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ketua Panitia Diskusi, Arief Wibisono, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Bali, menekankan perlunya kesadaran kolektif di antara wartawan untuk tetap berpegang pada Kode Etik. Saat ini, tantangan yang dihadapi bukan hanya dalam menyampaikan informasi, tetapi juga dalam menjaga ruang publik dari penyimpangan atau distorsi berita yang dapat merugikan masyarakat.
Menjaga Keseimbangan Sosial Melalui Berita yang Profesional
Dalam penutup diskusi, Arief menyatakan komitmen PWI Bali untuk memperkuat komunikasi dengan aparat dan stakeholder sehingga setiap peliputan bisa berlangsung aman tanpa gesekan. Wong Wartawan sebagai mitra strategis dalam mempertahankan kondisi kondusif daerah, terutama dalam konteks Bali sebagai tujuan wisata global.
Arief menekankan bahwa berita yang profesional tidak hanya berfungsi untuk memberikan informasi, tetapi juga harus menjaga keseimbangan sosial di masyarakat. Dengan demikian, keberadaan media yang independen dan profesional sangat penting demi menjaga kestabilan dan harmoni dalam kehidupan sosial di Bali.
Relevansi dari diskusi ini sangatlah penting bagi keberlangsungan jurnalisme yang berintegritas. Ke depan, wartawan perlu memperhatikan standar etika dan verifikasi dalam setiap liputan untuk mendukung terciptanya informasi yang dapat diandalkan dan bermanfaat bagi publik.


